Gunung dengan ketinggian 3.676 mdpl itu kembali menunjukkan intensitas letusan yang signifikan sejak dini hari. Lontaran material vulkanik, hujan abu, dan awan panas guguran meluncur ke arah tenggara–selatan, membuat beberapa dusun harus dikosongkan sejak pagi.
Aktivitas Erupsi Meningkat: Deru Terdengar hingga 15 Kilometer
Menurut laporan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), suara gemuruh dari kawah Jonggring Saloko terdengar hingga radius 15 kilometer. Visual kamera CCTV menunjukkan kolom abu membumbung setinggi 2.000–3.500 meter disertai lontaran material panas.
“Awan panas guguran terlihat meluncur sejauh 4–5 kilometer. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di area rawan bencana,” jelas petugas PVMBG dalam siaran pers.
Sejumlah desa yang kembali terdampak hujan abu antara lain:
- Desa Supiturang
- Desa Sumberwuluh
- Desa Curah Kobokan
- Desa Penanggal
- Desa Kamar Kajang
Respons Cepat Pemerintah: Status Siaga Diperketat
Pemerintah melalui BNPB langsung meningkatkan koordinasi bersama TNI, Polri, Basarnas, dan perangkat daerah untuk memastikan jalur evakuasi aman. Puluhan kendaraan taktis, ambulans, dan tim medis bergerak masuk ke wilayah terdampak.
“Kami memperketat radius bahaya 13 kilometer dari puncak Semeru. Semua warga dalam zona tersebut wajib mengungsi,” kata Kepala BNPB dalam keterangan tertulis.
Evakuasi Warga: Ribuan Orang Mengungsi di Titik Aman
Setidaknya 3.200 warga telah dievakuasi ke 12 titik pengungsian yang tersebar di beberapa kecamatan. Pemerintah daerah menyediakan posko logistik, dapur umum, layanan kesehatan, serta tempat khusus untuk bayi, lansia, dan ibu hamil.
Relawan dan perangkat desa berperan aktif melakukan pendataan. Warga yang memiliki hewan ternak juga diberi lokasi penampungan khusus agar tidak meninggalkan aset mereka di area bahaya.
Hujan Abu dan Dampak Lingkungan
Hujan abu terjadi di beberapa wilayah dengan intensitas ringan hingga sedang. Pemerintah mengimbau warga untuk menggunakan masker, kacamata, dan menutup sumber air. Selain itu, potensi banjir lahar dingin menjadi perhatian utama mengingat curah hujan tinggi beberapa hari terakhir.
“Saat hujan, sungai-sungai yang berhulu di Mahameru sangat rawan membawa material vulkanik. Warga di bantaran sungai diminta waspada,” ujar petugas BPBD Lumajang.
Peran TNI: Membuka Akses dan Evakuasi Cepat
Puluhan prajurit TNI dikerahkan untuk membantu evakuasi, membuka akses jalan yang tertutup material abu, serta menyiapkan jalur darurat bagi kendaraan logistik.
Beberapa alat berat milik TNI dan pemerintah daerah juga dikerahkan untuk membersihkan jalan utama yang menghubungkan desa dan pos pengungsian.
Presiden Menginstruksikan Penanganan Terpadu
Presiden Prabowo memberikan instruksi langsung kepada BNPB dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan penyelamatan warga dan distribusi logistik. Ia menekankan pentingnya pendekatan cepat, akurat, dan humanis.
“Keselamatan warga adalah prioritas. Pastikan pasokan logistik aman, layanan kesehatan berjalan, dan informasi kepada masyarakat disampaikan secara jelas,” ujar Presiden dalam koordinasi virtual.
Pengamatan PVMBG: Potensi Aktivitas Lanjutan Masih Ada
PVMBG menilai bahwa aktivitas vulkanik Mahameru masih fluktuatif. Tekanan magma di dalam kawah dinilai masih tinggi dan berpotensi memicu luncuran awan panas tambahan dalam beberapa hari ke depan.
Warga diminta tidak memasuki area aliran Sungai Kobokan yang menjadi jalur utama guguran awan panas.
Kisah Warga: “Deru Semeru Bikin Kami Harus Cepat Lari”
Salah satu warga Desa Supiturang menceritakan bagaimana suara gemuruh besar membangunkan warga pada dini hari. “Suara Semeru keras sekali, seperti pesawat mau jatuh. Kami langsung keluar rumah dan diarahkan ke posko,” ujarnya.
Banyak warga mengaku sudah terbiasa dengan erupsi Semeru, namun tetap waspada karena kejadian tahun-tahun sebelumnya meninggalkan trauma mendalam.
Baca Juga
- Fenomena Penumpang Menginap di Stasiun Cikarang
- Ladang Rezeki Warga di Kolong Tol Becakayu
- Prajurit TNI Temukan Puluhan Ribu Ekstasi di Mobil Kecelakaan
Kategori: Bencana, Nasional, Lingkungan
Tag: Gunung Semeru, Erupsi, BNPB, Tanggap Darurat, Lumajang


